DAKWAH SAAT INI KIAN KOMPLEKS


Dakwah tidak hanya sebatas mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran di atas mimbar. Dakwah lebih luas dari itu. Ia mencakup segala upaya yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Meningkatkan kualitas pendidikan dan perekonomian masyarakat merupakan bagian penting dalam dakwah saat ini. Para da’i pun memikul tanggung jawab besar dalam membimbing umat ke arah yang Islami. Dakwah akan efektif jika seorang da’i dapat menyampaikan materi dakwah sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Seiring dengan kemajuan zaman, tantangan dakwah pun kian kompleks…
“Tantangan dakwah saat ini tentu berbeda dengan tantangan dakwah di masa lalu. Tantangan dakwah di zaman ini lebih sulit dan rumit,” jelas H. Drs. Risman Mukhtar kepada Tim Reportase Center for Moderate Muslim beberapa pekan lalu. Berikut ini petikan wawancaranya:
Menurut Anda bagaimana dakwah yang baik?
Inti dakwah adalah membangun masyarakat Islami. Dakwah bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang beriman, berakhlak, dan beribadah yang benar serta menumbuhkan komitmen masyarakat untuk menjauhi kemaksiatan dan kezaliman. Dakwah yang baik bukan hanya menyampaikan dan menyosialisasikan ajaran Islam, tapi harus punya “grand strategy” yang ingin dicapai. Berdakwah tidak hanya “melemparkan bola”, tapi ada feed back (umpan balik) yang jelas yang kita ingin capai.
Saat ini banyak masyarakat bertindak “semau gue”, mereka mengabaikan salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Mereka menganggap ibadah-ibadah ini tidak memberi dampak materi dan ekonomi. Bagaimana menyadarkan orang-orang seperti ini?
Prilaku seseorang itu ditentukan oleh kualitas iman. Jika imannya bagus dan mantap, maka akan melahirkan perilaku yang bagus. Perbuatan kita menunjukkan isi batin kita. Saat seseorang melakukan perilaku yang tidak terpuji, itu menunjukkan bahwa iman dan akidah orang yang bersangkutan tidak baik. Jadi, perilaku yang tidak baik muncul dari iman dan akidah yang “tidak sehat”. Karenanya, terjadinya perilaku “semau gue”, saya pikir berasal dari iman dan aqidah yang belum benar. Untuk itu, sasaran terpenting dakwah adalah bagaimana membersihkan akidah umat. Karena iman dan akidah yang bersih dan sehat akan melahirkan perilaku-perilaku yang sehat pula. Kalau kita lihat strategi dakwah Rasulullah, dakwah yang digarap beliau adalah menanamkan akidah dan keimanan yang benar dan kuat.
Siapakah orang atau lembaga yang kompeten meluruskan tradisi-tradisi umat Islam yang bertentangan dengan ajaran Islam dan bagaimana mengubah cara pandang masyarakat agar budaya-budaya yang bertentangan dengan akidah Islam ditinggalkan?
Jika hanya melihatnya dari segi dakwah, maka orang atau lembaga yang berkompeten meluruskan tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah orang atau lembaga yang terjun di bidang ini. Tapi jika kita melihat sejarah kehidupan Rasulullah Saw. dan sahabat, semua orang berkompeten atau berkewajiban meluruskan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. jadi, pelurusan tradisi ini adalah tanggung jawab kita semua. Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat bertanggungjawab melakukan tugas dakwah meluruskan tradisi yang menyimpang dari ajaran Islam ini sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Tapi, kalau kita mencari orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, tentu saja adalah orang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi pemimpin dan penguasa serta mereka yang diberikan kelebihan ilmu (ulama-red) dibandingkan yang lain. Dakwah bukan hanya sekedar khutbah-khutbah, tapi proses rekonstruksi masyarakat, ada tuntunan dan ada tatanan yang mau dituju.
Bagaimana seharusnya dakwah di masa depan agar bisa efektif?
Jika kita berbicara masalah dakwah masa depan yang efektif, tentu kita harus melihat challenge (tantangan) yang akan dihadapi. Tantangan dakwah saat ini tentu berbeda dengan tantangan dakwah di masa lalu. Tantangan dakwah di zaman ini lebih sulit dan rumit. Di era globalisasi ini penetrasi budaya yang tak jarang bertentangan dengan nilai-nilai Islam bisa masuk dengan leluasa melalui media-media informasi, baik melalui media cetak ataupun elektronik.
Menurut hemat saya, dakwah yang efektif di masa depan harus mempunyai kontribusi (manfaat) yang jelas kepada masyarakat. Jadi, dakwah tidak harus dipikul oleh sekelompok orang tertentu, misalnya bukan hanya menjadi tanggung jawab para ulama, kyai atau mubalig, tapi menjadi tanggung jawab kita semua. Dakwah yang baik di masa depan adalah bukanlah dakwah verbal, seperti ceramah dan khutbah. Metode dakwah seperti ini memberikan jaminan apa yang disampaikan oleh para mubalig bisa dicerna oleh masyarakat atau dipraktikkan.
Cara berdakwah yang baik di masa depan adalah menciptakan kondisi masyarakat sejalan dengan ajaran agama melalui pembuatan aturan-aturan moral yang bersumber dari agama. Nah, RUU APP (Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi) yang sedang digarap oleh para wakil rakyat, menurut saya, adalah suatu langkah maju. Kita mengawal moral bangsa bukan hanya lewat slogan-slogan atau spanduk-spanduk yang tertampang di jalan-jalan, tapi mengawal moral bangsa dengan undang-undang. Cara ini lebih efektif menyelamatkan bangsa dari dekadensi moral.
Rasulullah Saw. adalah seorang khalifah, pemimpin, penceramah dan beliau tidak mengharapkan imbalan. Bagaimaana menciptakan para muballig seperti Rasulullah?
Rasulullah Saw. adalah contoh ideal, baik sebagai seorang pemimpin, penguasa, maupun pengusaha. Dakwah adalah tugas dan kewajiban kita bersama sesuai dengan kemampuan tiap individu. Dakwah menjadi krusial saat dijadikan profesi dan tumpuan hidup. Namun, jika mereka yang melaksanakan dakwah tidak mendapat imbalan, dari mana mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dan kelurganya. Misalnya, Muhammadiyah mempunyai lebih dari seratus mubalig yang berada di desa-desa terpencil. Jika kita membiarkan mereka tidak diberi nafkah, apakah mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik, karena mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi? Inilah yang harus dipecahkan. Menurut saya, janganlah menjadikan materi sebagi tujuan utama dakwah. Kalau kita mendapat imbalan kita terima saja, dan yang penting kita tidak mematok harga.
Bagaimana tanggapan Anda tentang dakwah dengan perkataan yang keras dan penerapan amar ma’ruf nahi munkar menggunakan cara-cara kekerasan?
Paradigma seperti ini sebenarnya perlu ada klarifikasi. Dakwah dalam arti memberikan penyuluhan kepada masyarakat harus menggunakan perkataan yang baik. Himbauan harus menggunakan cara yang baik. Misalnya dalam mempromosikan barang, tentu harus menggunakan perkataan yang baik dan santun serta menggunakan bahasa yang baik dan santun pula. Perkara lain yang Anda tanyakan adalah masalah amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar intinya adalah law enforcement (penegakkan hukum). Persoalannya adalah siapa yang berhak melakukan itu?
Berdakwah dengan cara yang keras tidak dibenarkan Allah. Firman-Nya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya,” (QS Ali Imran [3]: 159).
Jangankan kepada umat pada umumnya, ketika Nabi Musa dan Harun mendapat perintah untuk pergi kepada Fir’aun untuk menyampaikan tauhid, Allah Swt mengatakan kepada mereka, “Pergilah kamu hai Musa dan Harun kepada Firaun dan katakanlah dengan perkataan yang lembut,” (QS Thaha [20]: 43-44). Kepada Fir’aun saja Allah memerintahkan Nabi Musa berdakwah dengan kata-kata baik dan lemah lembut, apalagi kepada umat yang tidak zalim.
Jadi dasar dakwah adalah berkata baik dan berlaku lemah lembut?
Benar, prinsip dakwah adalah perkataan dan perlakuan yang baik. Kita berdakwah dengan cara yang penuh kasih sayang sehingga tercipta umat yang selalu taat perintah Allah.(CMM)

Loading...

0 Response to "DAKWAH SAAT INI KIAN KOMPLEKS"

Post a Comment