Artikel Kuliah: Transformasi Pendidikan Islam



BAB I
PENDAHULUAN

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”
(Al-Baqarah:78)
 

Pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Tak jarang kita dapati Negara miskin didominasi oleh masyarakat buta huruf. Sedangkan jumlah masyarakat yang tecatat buta huruf di Indonesia adalah sebanyak 17.097.220 dari 220 juta lebih penduduk. Bahkan, laporan bank dunia menyatakan bahwa ketrampilan membaca siswa SD kelas 4 Indonesia paling rendah se Asia Timur (Prasetyo,2005).
Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 78 diatas, buta huruf dalam bahasa Arab dikenal dengan al-ummy (mufradnya ummiyyuuna) dimaknai dalam sebuah syair :
انه امة امية لانكتب ولانحسب
“Kami adalah ummat yang ummy tidak bisa menulis dan tak menghitung.”
Sedangkan ummiyyah (bentuk jama’ dari amany) berarti bacaan-bacaan. Makna yang senada maknanya dengannya diungkapkan oleh penyair bernama Ka’ab Ibnu Zubair, “Membaca di awal dan di akhir malam tetapi hasilnya menjumpai ajal yang telah ditakdirkan.” Penyair mengkonstantir sikap mereka dalam membaca kitab Taurat, mereka hanya membaca lafadz-lafadznya saja tanpa melakukan amaliyah kehidupan sehari-hari seperti yang disebutkan dalam surat Al-Jum’ah ayat 5 yang artinya;
 “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Mereka adalah kaum kerdil, tingkah laku yang mereka lakukan hanya berdasarkan sangkaan belaka (taqlid pada sesuatu yang ia tidak mengetahui asal usulnya). Hal ini menunjukkan bahwa ketiadaan pendidikan dapat menyebabkan ummat yang kerdil.
            Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan kaum yahudi pada masa Nabi Musa as yang ummy terhadap kitabNya yakni taurat, sedangkan Indonesia adalah negara yang memiliki mayoritas penduduk Islam namun mengapa masih kita temui banyak masyarakatnya yang belum menjalankan syari’at Islam, bahkan masih ada yang buta huruf Al-Qur’an? Padahal telah tersebar luas sekolah-sekolah  umum, madrasah-madrasah, bahkan pondok pesantren yang mengajarkan pendidikan agama Islam. Bahkan tak jarang kita temui orang muslim yang faham ilmu agama namun tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang terjadi pada sebuah SMA swasta di Yogyakarta, pihak sekolah lebih membanggakan kejuaraan dalam bidang olah raga tanpa mempedulikan karakter para siswanya yang belum faham tentang Islam secara menyeluruh. Dan seolah-olah pendidikan Islam dinomer duakan setelah pendidikan umum. Sebenarnya, bagaimanakah sistem pendidikan Islam di Indonesia dan apakah sistem pendidikan tersebut sudah dapat merealisasikan metode pengajaran Rasulullah SAW dalam mengajarkan islam pada ummatnya? 

Dengan penyusunan makalah ini, diharapkan dapat terdeskripsikan keadaan pendidikan islam di Indonesia yang dibandingkan dengan metode pendidikan ideal yang diajarkan Rasulullah SAW.
 
BAB II
PEMBAHASAN

A.   PENDIDIKAN DALAM ISLAM
1.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan diambil dari kata dasar didik yang berimbuhan pe-an. Mendidik berarti memelihara latihan mengenai akhlaq dan kecerdasan fikiran.[1]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.[2] Sehingga menurut penulis, pendidikan dapat membentuk sebuah karakter manusia dan dapat mengubah tabi’at asal dengan proses pembiasaan dalam kehidupan menjadi sebuah akhlaq (nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya).[3]
Pendidikan dalam bahasa Inggris dikenal dengan education yang berasal dari kata “educare” yang artinya “menggiring keluar”. Dalam konteks ini, sesuatu yang digiring keluar adalah potensi-potensi manusia. Sedangkan dalam Islam dikenal dengan kata “tarbiyyah” yang bermakna “meningkatkan” atau “membuat sesuatu lebih tinggi”. Dengan demikian, pendidikan pada dasarnya mengandung pra anggapan bahwa dalam diri manusia terdapat bibit-bibit kebaikan yang harus digiring keluar atau ditingkatkan.[4]
Dari pengertian diatas, terbuktilah kebenaran Kitabullah yang menunjukkan bahwa Allah SWT hanya akan memberikan ilmu kepada orang-orang yang berakal dalam surat Al-Baqarah ayat 269 yang artinya; Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Jadi, objek pendidikan adalah manusia sebagai seorang khalifah yang bertugas menggantikan Allah dalam menjalankan hukumnya dimuka bumi ini[5] dalam mewujudkan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur.      
2.    Kewajiban Pendidikan bagi Ummat Islam
Surat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril adalah surat Al-‘Alaq. Sejarah menceritakan bahwa ketika Muhammad bertahannuts (berdiam diri di tempat sepi) di gua Hiro, malaikat Jibril datang kepadanya dan menyuruhnya membaca, padahal ia tak dapat membaca sehingga Jibril mendekapnya hingga Muhammad mengalami kepayahan. Kejadian itu terjadi hingga tiga kali, dan kemudian Jibril melanjutkan dengan membacakan pada Muhammad “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan(1). Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah(2). Bacalah, dan tuhanmulah yang Maha Pemurah(3). Yang mengajarkan dengan kalam(4). Ia telah mengajarkan manusia terhadap  apa yang tidak ia ketahui (5).”[6]
Dalam tafsir Al-Maraghi, ayat diatas ditafsirkan sebagai berikut :
Ayat pertama, menunjukkan bahwa Dzat Yang menciptakan makhluq mampu membuat Muhammad bisa membaca, meskipun sebelum itu ia tidak pernah belajar membaca.
Ayat kedua, sesungguhnya Dzat Yang menciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian membekalinya dengan kemampuan berfikir, sehingga bisa menguasai seluruh makhluq bumi.
Ayat ketiga, Perintah “Bacalah!” diulang-ulang karena membaca tidak akan dapat meresap kedalam jiwa melainkan setelah berulang-ulang dan dibiasakan. Berulang-ulangnya perintah ilahi berpengertian sama dengan berulang-ulangnya membaca. Dengan demikian, membaca adalah bakat Nabi SAW. Seperti yang dijanjikan Allah dalam surat Al-A’la ayat 6;
 “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.”
 Namun ketika Muhammad diperintah membaca ia menerangkan bahwa dia seorang ummi maka  Allah pun menyingkirkan halangan yang ia kemukakan dengan firman berikutnya bahwa Allah adalah Dzat Yang Pemurah pada hambaNya yang senantiasa memohon pada pemberianNya. Kemudian Allah menentramkan hatinya dengan firmanNya pada ayat keempat.
Ayat keempat, Yang menjadikan kalam sebagai alat komunikasi antar sesama manusia sekalipun letaknya berjauhan. Qalam adalah sebuah benda mati yang tidak bisa diberikan pengertian (lisan/tulisan), sehingga membuat kemudahan Muhammad untuk dapat membaca dan member penjelasan dan pengajaran. Apalagi ia adalah manusia sempurna.  Allah juga menyatakan bahwa diri-Nyalah yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq kemudian mengajari dengan perantara kalam. Dengan itu, seolah-olah dikatakan kepada semua manusia “Renungkanlah wahai manusia! Kelak engkau akan menjumpai dirimu telah berpindah dari tingkatan yang paling rendah dan hina kepada tingkatan yang mulia. Demikian itu tentu ada kekuatan yang mengaturnya dan kekuasaan yang menciptakan kesemuanya dengan baik.”
Ayat kelima, Allah adalah Dzat Yang mengajarkan kepada manusia tentang berbagai ilmu sehingga manusia berbeda dari makhluq yang lain. Pada awalnya tidak mengetahui apa-apa (bodoh). Inilah inti pokok tentang keutamaan membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan. Sungguh jika tidak ada qalam, maka segala ilmu pengetahuan akan kabur.
Dengan wahyu ini, teranglah bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan  hal pokok yang menjadi bekal setiap manusia dalam menjalankan tugasnya.  Rasullah SAW juga pernah bersabda:
“menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim.”[7]
Kata muslim bermakna menyeluruh yakni pemeluk Islam baik laki-laki maupun perempuan.
Dalam hadits lain disebutkan pula bahwa Nabi penah berkhutbah:
“Mengapa ada orang-orang yang enggan memberi pemahaman kepada orang lain, tidak mau mengajari mereka, tidak berusaha mencerdaskan mereka, tidak pernah menganjurkan  mereka untuk berbuat baik, dan tidak mau mencegah mereka dari perbuatan munkar? Selain itu mengapa ada juga orang yang enggan belajar kepada orang lain, tidak mau mencari pemahaman dari orang lain, serta enggan menjadi orang cerdas dengan belajar dari orang lain? Demi Allah, suatu kaum hendaknya mengajari kaum yang lain, memberikan mereka pemahaman, mencerdaskan mereka, menganjurkan mereka berbuat baik dan mencegah mereka dari berbuat munkar. Selain itu, hendaknya suatu kaum mau belajar dari kaum yang lain, berusaha mencari pemahaman dari mereka dan membangun kecerdasan diri dengan belajar kepada mereka. Karena jika suatu kaum enggan melaksanakan anjuran-anjuran tersebut maka sama halnya mereka mengharapkan agar aku (memohon pada Allah supaya) menyegerakan hukuman bagi mereka didunia.”[8]
Dari Hadits diatas, teranglah perintah pendidikan antar sesama manusia, yaitu proses belajar mengajar yang dapat dilaksanakan dimanapun dan kapanpun tidak terikat pada sistem pendidikan yang dibatasi oleh Negara maupun sistem yang dibuat manusia.      
3.    Rasulullah SAW sebagai Teladan Para Pendidik
Rasulullah SAW adalah sang edukator (pendidik, pengajar, guru) bagi seluruh manusia. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2: “Dialah Tuhan yang telah mengutus kepada kaum ummy (buta huruf) seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, (berjuang) mensucikan mereka, serta mengajarkan mereka kitab dan hikmah (Sunnah). “Sesungguhnya mereka sebelum diutusnya Muhammad benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”
 Dan Rasulullah juga pernah bersabda:
“Sungguh aku telah diutus (oleh Allah) sebagai seorang pengajar.” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah memperoleh kesuksesan yang gemilang dalam mendidik dan mengajar ummat manusia dalam waktu yang singkat. Hal ini dapat terwujud karena kepiawaiannya dan kapabilitas beliau dalam menciptakan suasana pembelajaran yang sinergis, serta membebaskan mereka dari kebodohan dan menganjurkan mereka untuk senantiasa bersikap tegas dan konsisten dalam merealisasikan tujuan-tujuan pendidikan.[9] Selain itu, hal penting yang menyebabkan kesuksesan pendidikan beliau adalah karena akhlaq (perangai) beliau yang sangat agung, Aisyah ra pernah berkata bahwa akhlaq Rasul adalah Al-Qur’an.  
Meskipun beliau seorang yang ummy namun Allah SWT telah menganugerahinya dengan ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Allah menyempurnakan akhlaq beliau dengan kepribadian tunggal, inklusif, dan tidak dimiliki orang lain seperti disebutkan dalam nukilan surat Annisa ayat 113 yang artinya:
“…dan Dia (Allah) telah mengajarimu (Muhammad) tentang apa yang tidak engkau ketahui. Sungguh, karunia Allah yang telah dianugerahkan kepadamu sangat besar.”
Dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Dr. Musthafa As-Siba’i dapat penulis simpulkan beberapa aspek yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sehingga beliau dapat memperoleh kesuksesan dalam membawa masyarakat dari gelapnya kebodohan menuju pada terangnya cahaya Islam dalam waktu singkat, diantaranya adalah:
a.    Aspek Nashab / Keturunan
Beliau berasal dari keluarga yang mulia dan terhormat diantara masyarakat sekitarnya.
b.    Aspek Emotional
Beliau memiliki kesabaran, keadilan dalam berperilaku serta rasa simpati dan empati terhadap sesama.
c.    Aspek Sosial
Beliau senantiasa menjaga kehormatan diri, dengan tidak menceburkan diri dalam kemaksiatan, dan menjaga pergaulan dengan sesama manusia serta tidak mengenal pamrih dalam sabilillah.
d.    Aspek Spiritual
Beliau selalu selalu mendekatkan diri pada Allah, bermuhasabah pada sepertiga malam terkhir dengan mendirikan sholat tahajjud. Beliau juga memiliki fithrah yang suci.
e.    Aspek Intelektual
Beliau adalah seorang yang ummy, namun beliau memiliki kecerdasan yang lebih dalam berfikir.

B.   WAJAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Ketertinggalan peradaban Islam adalah salah satu akibat dari krisis pemikiran yang berpangkal pada krisis pendidikan Islam. Hal ini dapat terjadi karena pendidikan Islam tidak fungsional tehadap perkembangan zaman. Keadaan pendidikan di Indonesia saat ini pun masih mengalami dualisme, yakni antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Kebanyakan di Indonesia kesadaran nilai-nilai agama belum tersentuh. Selain itu, pembinaan aspek afektif dan konasif-volutif (kemauan dan tekad) untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama juga masih terabaikan. Pendidikan di Indonesia masih terpaku pada ketercapaian aspek kognitif saja. Pendidikan di Indonesia belum dapat menggarap karakter manusia.
Seperti yang dinyatakan oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada seminar nasional tentang Format dan Tantangan Pendidikan Muhammadiyah di depan Auditorium Universitas UHAMKA Jakarta,
“Saya melihat kebanyakan pendidikan masih bersifat dikotomik, yaitu membedakan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama, antara pelajaran umum dan pelajaran agama dan  antara ilmu umum dan ilmu agama…”  
Ketua Ikatan Dosen Provinsi Lampung Syaiful Anwar juga mengatakan bahwa pendidikan agama dan pembinaan keimanan dan ketaqwaan lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang besifat kognitif dan kurang kurang menjadikannya nilai yang perlu diinternalisasikan pada jiwa peserta didik.
Pernyataan lain juga dinyatakan oleh seorang dosen FakultasTarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung pada disertasi Doktoral by research bidang ilmu agama di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta,
“Pendidikan agama di sekolah-sekolah perlu terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan keseluruhan mata pelajaran yang lain melalui sistem pendidikan terpadu,”
  Menurut KH.A. Mushtofa Bishri atau Gus Mus Pendidikan di Indonesia mengalami reduksi atau terjerembab menjadi sekedar pengajaran belaka, yang hanya sebagai proses ta’lim (proses transfer pengetahuan) saja belum mencapai proses tarbiyyah. Sehingga belum dapat menciptakan manusia yang terdidik dan beradab. Padahal hal itulah yang dijadikan sebagai pembentuk bangsa yang berkarakter sehingga berpeluang memainkan masa depan.
Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan datang untuk melakukan transformasi pendidikan di Indonesia guna  mengintegrasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Kajian keilmuan yang bersumber pada hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis sebagai ayat kauniyah dikaitkan dengan kitab suci Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai ayat-ayat qauliyah sebagai instrument untuk mendapatkan kebenaran yang dicari sehingga mendapatkan keselamatan dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Muhammadiyah menamakan pendidikannya dengan pendidikan holistik yskni pendidikan yang menyangkut tiga domain yaitu domain kognitif (Intelectual Question), domain afektif (emotional Question), dan domain psikomotorik.
 Kurikulum pendidikan di Indonesia belum bersifat holistic, karena kecenderungannya dalam menilai peserta didik hanya dengan hasil kognitif saja seperti dilaksanakannya Ujian Akhir Nasional (UAN) dengan standar nilai yang telah ditetapkan dan bagi Negara, yang terpenting adalah mencapai target walau bagaimanapun caranya, sehingga seringkali banyak peserta didik yang mempunyai prestasi segudang tidak dapat melanjutkan pendidikan formalnya hanya karena ada satu mata pelajaran saja yang belum mencapai target kelulusan. Sedangkan ada peserta didik yang mencapai target kelulusan dengan jalan yang dilarang oleh syari’at Islam. Pendidikan yang mengalami ketimpangan kurikulum inilah yang menurut penulis dapat menjebak kepada kemunduran bangsa.

C.   PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IDEAL
1.    Kedudukan Agama Islam
Dalam Masalah Lima (Masaailul khoms), agama didefinisikan sebagai apa yang disyari’atkan Allah SWT dengan perantaraan Nabi-nabiNya berupa perintah-perintah, larangan-larangan, serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia didunia dan akhirat.[10]
Sedangkan pengertian Islam menurut Ahmad Abdullah Al-Masdoosi adalah satu-satunya aturan hidup yang diwahyukan untuk segenap ummat manusia dari zaman ke zaman; dan bentuk terakhir yang sempurna adalah Islam yang ajarannya tersebut dalam Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.[11]
Hubungan antara Islam (agama terakhir) dengan agama samawi yang diwahyukan kepada Nabi sebelumnya itu sangat erat, terutama dalam hubungan fungsional, yaitu:
a.    Jika agama sebelumnya berlaku untuk segenap ummat, maka Islam berlaku universal, seluruh ummat manusia dan hingga akhir zaman.
b.    Agama Islam adalah agama penyempurna agama-agama sebelumnya. Semua agama yang dibawa oleh Nabi sebelum Muhammad dinasikh dengan agama yang dibawa Nabi terakhir.
c.    Agama Islam juga merupakan agama pengoreksi terhadap penyimpangan yang terjadi pada agama sebelumnya.

2.    Pendidikan Ala Rasulullah SAW
Secara epistemologi keilmuan, konsepsi dasar pendidikan Islam berpijak pada pendidikan seumur hidup. Pendidikan Islam tidak dipilah-pilah secara dikotomis. Baik antara pendidikan formal dengan non formal, atau pendidikan agama dengan umum maupun memilah-milah antara aspek logika, etika maupun estetika. Karena agama Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Rasulullah SAW sebagai mu’allim mendidik ummatnya dengan kepribadian yang luhur dan ajaran yang ia ajarkan terhindar dari kesia-siaan, apa yang beliau ajarkan senantiasa selaras dengan akhlaq yang beliau tampilkan. Hal ini dapat menerangkan kepada para peserta didiknya bahwa ilmu yang telah diajarkan tidak akan sia-sia karena perlu pengamalan dalam kehidupan sehari-hari yang akan membawanya pada keberhasilan ummat.
Rasulullah memiliki tujuan yang sangat mulia yakni membebaskan umatnya dari kesulitan dan penderitaan hidup sebagaimana termaktub dalam QS. At-Taubah 128 yang artinya;
“Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Ia merasa berat melihat penderitaan kalian; dan ia sangat mengharapkan (keimanan dan keselamatan) atas diri kalian; dan ia sangat berbelas kasihan lagi menyayangi orang-orang mukmin.”
Sebagai mu’allim, beliau tidak pernah menuntut kepada ummatnya untuk memahami ajarannya dengan cepat. Beliau akan selalu mengajarkan kepada siapapun yang mau berusaha belajar tentang Islam, beliau senantiasa sabar lagi  rendah hati terhadap ummatnya yang memiliki daya penalaran lemah sekalipun. Seperti hadits Rasulullah SAW berikut;
“aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika sedang berpidato. Aku berkata kepada beliau; ‘Wahai Rasul, seorang asing telah datang kepada engkau untuk menanyakan perihal agama. Ia tidak tahu perihal agamanya.’ Rasulullah SAW lalu menemuiku dan menghentikan pidatonya. Setelah beliau bersamaku, beliau diambilkan kursi yang setahuku berasal dari besi. Rasulullah kemudian duduk diatasnya dan mulai mengajariku tentang sesuatu yang telah diajarkan Allah kepadanya.Setelah itu, beliau melanjutkan pidatonya hingga selesai.”[12]
           Pendidikan adalah perancang kepribadian manusia, maka diperlukan adanya pemahaman tentang tentang pribadi manusia seperti keadaan yang terpancar dari tingkah lakunya. Rasulullah telah mengajarkan pada kita dengan menjadi sosok yang sangat memahami keadaan psikologi para peserta didiknya. Sebagaimana sikap beliau dalam hadits;
“Kami golongan pemuda yang berumur sebaya pernah datang kepada Rasulullah SAW dan tinggal bersama beliau selama 20 malam. Kami mendapati beliau adalah seorang yang amat penyayang lagi santun. Ketika beliau mengira kami telah merindukan keluarga kami di kampung halaman, beliau menanyakan siapa saja yang kami tinggal dirumah. Kami pun menceritakannya kepada beliau dan beliau bersabda: ‘Sekarang, silahkan kalian pulang kepada keluarga kalian; tinggallah bersama mereka; ajarilah mereka; anjurkanlah mereka berbuat kebajikan; dan kerjakanlah sholat sebagaimana kalian melihat aku sholat. Jika telah datang waktu sholat, hendaklah kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang menjadi imam adalah orang yang paling dewasa diantara kalian.’”[13]
Dan dalam nukilan hadits;
“Beliau mudah melupakan hal-hal yang tidak berkenan dihati beliau (tidak menyimpan dendam); tidak memupuskan harapan orang lain; dan berusaha membuat orang lain punya sikap optimis.”[14]
           Dalam menyampaikan ajaran (proses belajar mengajar), Rasulullah memiliki beberapa metode untuk mencapainya. Menurut Abdul Fattah Abu Ghuddah, ada 40 metode yang dilakukan Nabi SAW, yaitu
1.    Metode modeling dan etika mulia (keteladanan)
2.    Metode pengajaran graduasi (pentahapan sesuai tingkatan)
3.    Metode situasional dan kondisional
4.    Metode selektif dan proporsional
5.    Metode interaktif dialogis (tanya jawab)
6.    Metode pertanyaan (berpikir logis dan rasional)
7.    Metode pertanyaan untuk menyelami kecerdasan dan pemahaman
8.    Metode analogi
9.    Metode tasybih (membuat persamaan antara beberapa hal yang berbeda)
10. Metode menulis (menggambar)
11. Metode bahasa lisan dan isyarat (anggota tubuh)
12. Metode demonstrasi dengan alat peraga
13. Metode pre tes
14. Metode jawaban proporsional
15. Metode jawaban secara panjang lebar
16. Metode menjawab diluar konteks dan tema
17. Metode pengulangan pertanyaan
18. Metode menggunakan metode jawaban orang lain
19. Metode pertanyaan dan pujian
20. Metode membenarkan kasus dengan sikap diam
21. Metode memilih momentum kondusif
22. Metode humor
23. Metode meyakinkan dengan cara bersumpah
24. Metode mengulang-ulang materi
25. Metode mengubah posisi, dan mengulang pertanyaan
26. Metode membangkitkan perhatian dengan mengulangi penjelasan dan menunda jawaban
27. Metode membangkitkan perhatian dengan memegang tangan peserta didik
28. Metode membangkitkan kuriositas dengan membiarkan sesuatu tetap tidak jelas
29. Metode penjelasan secara global dan detail
30. Metode penyebutan bilangan secara global
31. Metode nasehat dan peringatan
32. Metode motivasi dan ultimatum
33. Metode cerita
34. Metode memberikan kata pengantar
35. Metode bahasa isyarat
36. Metode konsistensi dan prioritas tehadap pendidikan perempuan
37. Metode menampakkan kemarahan
38. Metode media teks
39. Metode menggunakan bahasa asing
40. Metode menampilkan kepribadian luhur
Dari metode-metode tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW melakukan pendidikan yang berhubungan langsung dengan peserta didik. Komunikasi yang terbangun antara pendidik dan yang dididik sangatlah erat sehingga motivasi yang dimiliki peserta didik untuk mengamalkan ilmu lebih besar jika dibandingkan dengan pengajaran yang tidak dibekali kedekatan psikologis antara guru dan murid.
 
 BAB III
PENUTUP

Manusia adalah khalifah di muka bumi dengan membawa tugas menggantikan peran Tuhan dalam menegakkan hukum-hukumnya. Maka, manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dengan makhluq lainnya dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu (membaca semua ayat yang Allah turunkan, yaitu ayat kauniyah dan qauliyah) dan menyebarluaskan ilmuNya dengan kalamNya.
Pada khususnya, pendidikan Islam di Indonesia masih mengalami dualisme yang dapat menghalangi Indonesia menuju kepada kemajuan karena tidak terbentuknya kepribadian yang mulia. Sehingga diperlukan sebuah kurikulum yang holistik yang dapat mensinergiskan antara pendidikan agama dengan pendidikan umum sehingga dapat menciptakan kemashlahatan dunia dengan hidup adil, aman dan makmur, dan menciptakan kemashlahatan akhirat yaitu mendapatkan keridhoan Allah dan mendapatkan kedudukan agung disisiNya.
Islam telah memberikan solusi yang terbaik pada permasalahan pendidikan di Indonesia dengan mensinergiskan antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum, yakni dengan menciptakan pendidikan yang holistik serta tidak memilah-milah antara ilmu umum dengan ilmu agama, maupun antara pendidikan formal dan non formal, karena esensi pendidikan adalah membentuk sebuah pribadi. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan konsep ini diharapkan dapat mewujudkan peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual.Beliau juga telah memberikan keteladanan dalam proses belajar mengajar dengan menawarkan 40 metode pengajaran.
Islam tidak dapat terpisah dengan pendidikan. Semoga dengan konsep kurikulum yang Al-Qur’an dan As-Sunnah tawarkan dapat membawa kemajuan peradaban Islam dimasa sekarang sebagaimana yang pernah menghiasi dunia Islam pada masa kekhalifahan Dinasti Abbasyiah. Wallahu a’lam.
 

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku

Al-Maraghi, Ahmad Mushthofa.1992.Terjemah Tafsir Al-Maraghi 1.Semarang: Thoha Putra.

Al-Maraghi, Ahmad Mushthofa.1992.Terjemah Tafsir Al-Maraghi 30.Semarang: Thoha Putra.

Ghuddah, Abdul Fattah Abu.2009. 40 Metode Pendidikan & Pengajaran Rasulullah SAW.Bandung: Irsyad Baitus Salam.

Ilyas, Lc MA. DR.H Yunahar.2006. Kuliah Akhlaq.Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ma’arif,dkk Prof. DR. H A Syafi’i.2003.Islam Dan Pengembangan Disiplin Ilmu Sebuah Transformasi Nilai.Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

As-Siba’I, DR. Mushthofa.1972.As-Siratun  Nabawi.Saudi Arabia: Daarul Kutub.

Jurnal, Makalah, Internet

“Pendidikan Seharusnya Mudah” oleh Aad Satria Permadi yang disampaikan pada Seminar Pendidikan IRM 2007.

www.google.com. 16 April 2010 pukul 11.30 WIB

“Menyoal Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Indonesia”. www.voa-islam.com. 16 April 2010 pukul 11.30 WIB

Suara Muhammadiyah.Sajian Utama.No.05/Tahun ke 95 1-15 Maret 2010.

 
Saran dari Ustadzah Latisy
-       Kembangkan metode pengajaran ala Rasul
-       Kaitkan dengan pendidikan formal (TK, SD, SMP, SMA)




[1] Artikel mahasiswa Universitas Negeri Padang yang didapat dari www.google.com pada 16 April 2010
[2] ibid
[3] Menurut Abdul Karim Zaidan
[4] Artikel “Pendidikan Seharusnya Murah” karya Aad Setya Permadi yang disampaikan pada seminar pendidikan IRM
[5] Tafsir Jalalain hal 6
[6] Q.S. Al-‘Alaq: 1-5
[7] HR. Thabrani
[8] Diriwayatkan dari Al-Qamah bin Sa’ad bin ‘Abdurrahman bin Abza, dari ayahnya, dari kakeknya.
[9] Ibid hal 28
[10] “Panduan Materi dasar Baitul Arqam ‘Aisyiyah” hal. 41
[11] Materi kuliah Aqidah semester I yang disusun oleh Drs. Zaini Munir F., M.Ag
[12] HR. Imam Bukhori dalam kitab Adabul Mufrad juga Imam Muslim dan Nasa’I, ilmu pengetahuan, dengan teks redaksi hadits dari Imam Muslim.
[13] HR. Imam Bukhori dan Muslim
[14] HR. Imam Tirmidzi
Loading...

0 Response to "Artikel Kuliah: Transformasi Pendidikan Islam"

Post a Comment